LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
MAHASISWA GEOGRAFI
Kawasan Bandung Purba - Jawa Barat
Disusun oleh,
HASBI PRANOTO
092170081
INDRA ABDILLAH
092170088
GUNAWAN
092170096
ALFIAN ADAM TRISETIYADI
092170100
RIAN JAKA PANUTAN
092170105
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA
2010
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji serta syukur senantiasa kami ucapkan kepada Alloah SWT, yang telah mana atas karunia dan kehendak-Nya kami dalam keadaan sehat baik sehat rohani maupun sehat jasmani, Alhamdulillah, kami bisa menyelesaikan laporan kuliah keja lapangan (kkl) dengan kawasan Bandung Purba – Jawa Barat, meskipun kami sadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna.
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan salah satu dari kurikulum program studi geografi yang merupakan sebagai kegiatan perkuliahan di luar ruangan perkuliahan, guna mengenalkan dan memberikan pengetahuan yang luas tentang keadaan yang sebenarnya tentang semua apa yang dikaji oleh geografi, jadi mahasiswa bukan hanya mendapat pengetahuan tentang teori saja melainkan mendapt pengetahuan yang lebih nyata tentang apa yang di pelajari oleh atau yang di kaji oleh geografi.
Dengan adanya kegiatan ini kami pun bisa mendapat pengetahuan yang lebih nyata tentang apa yang selalu kami terima mengenai ilmu-ilmu dari cabang ilmu geografi.
Oleh karena itu kami sangat berterimakasih kepada semua pihak yang telah mengadakan kegiatan ini, khususnya kepada para dosen yang telah membimbing kami dalam kegiatan ini, kami ucapkan beribu-ribu terimakasih yang sebesarnya. Mudah-mudahan Allah SWT membalas akan semuanya. Amin
Tak lupa kami pun mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu akan terselesaianya pembuatan laporan ini.
Terakhir kami ucapkan mohon maaf kepada semua pihak, apabila ada perkataan atau perbuatan kami yang menyinggung perasaan. Yang benar datangnya dari Allah, yang salah datangnya dari diri kami sendiri.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Tasikmalaya, 16 Maret 2010
Penulis
HASIL KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
Kawasan Bandung Purba – Jawa Barat
Hari Pertama:
MUSEUM GEOLOGI BANDUNG
Museum Geologi Bandung didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Museum ini menyimpan dan mengelola materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral, peralatan rumah tangga baik zaman dulu maupun zaman sekarang, yang dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.
Museum Geologi Bandung awalnya berfungsi sebagai labolatorium dan tempat penyimpanan hasil penyelidikan geologi dan pertambangan dari berbagai wilayah Indonesia, lalu berkembang sebagai penyedia informasi tentang ilme kebumian dan sebagai objek pariwisata.
Di museum Geologi bandung terdapat beberapa ruangan yang berisi tentang berbagai kegiatan geologi, batu-batuan, kerangka dinosaurus, peralatan-peralatan rumah tangga baik zaman dahulu, maupun zaman sekarang. Waktu pertama kami masuk ke museum geologi kami langsung di bawa ke dalam aula yang di dalamnya berisi tentang kegiatan geologi khususnya di wilayah Bandung dalam bebtuk layar lebar animasi gambar. Setelah itu kami menuju ke ruangan berikutnya. Kami mendapatkan berbagai informasi mengenai tentang awal mula terbentuknya bumi di dalam tata surya, lempeng-lempeng kulit bumi aktif dan keadaan geologi Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Irian Jaya. Semua ini disajikan dalam bentuk poster dan model maket. Di ruangan berikutnya kami menemukam berbagai batuan-batuan yang menurut kami sangan unik dan jarang sekali kami melihatnya, dari batuan beku, sedimen bahkan sampai batuan malihan. Di sini juga terdapat berbagai kerangka atau tengkorak kepala manusia dari zaman purba, bentuknya sangat beragam sekali. Selain itu ada juga kerangka hewan purba yang sangat aneh-aneh sekali bentuknya, dan yang paling menakjubkan ada kerangka dinosaurus yang berdiri di sana. Setelah itu kami pun menuju ke ruangan atas di sana kami menjumpai model maket mengenai pertambangan emas terbesar di dunia, yang terletak di pegunungan Irian Jaya. Pada ruanagan terakhir kami menjumpai berbagai macam kehidupan manusia yang berkaitan atau yang berhubungn dengan hasil dari kegiatan geologi. Ada berbagai jenis batuan yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai alat untuk keperluannya sendiri, dan kami pun juga melihat berbagai peralatan yang digunakan pada masa sekarang.
Dari kunjungan kami ke Musuem Geologi Bandung banyak sekali pengetahuan yang dapat kami peroleh. Meskipun tidak secara keseluruhannya berbagai informasi mengenai kegiatan-kegiatan khususnya geologi yang dapat kami cerna, setidaknya kami mengetahui letak dari museum geologi tersebut. Kalau masih ada kesempatan dan rejeki kami bisa mengunjunginya kembali di hari yang lain. Karena tidak cukup sekali kita bisa memahami akan suatu ilmu.
Hari Kedua:
PATAHAN LEMBANG
Bandung kota dan sekitarnya, pada masa lampau merupakan danau yang dikenal dengan Danau Bandung. Keadaan yang sekarang terlihat merupakan pedataran yang biasa disebut dengan istilah “Cekungan Bandung” (Bandung Basin). Daerah sekitar cekungan tersebut, diperkirakan dahulu merupakan tepian danau sehingga banyak diperoleh sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau
Morfologi di sepanjang garis patahan menunjukkan karakteristik yang berbeda secara mencolok. Sisi sebelah timur patahan yang memotong lava membentuk gawir yang sangat tinggi. Ketinggian gawir ini semakin berkurang ke sisi barat sehingga memperlihatkan morfologi menyerupai engsel. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sisi timur dan barat patahan bisa jadi bergerak dengan mekanisme yang berbeda yaitu pada sisi timur memiliki komponen pergerakan vertikal (dip-slip) lebih dominan daripada komponen pergerakan horisontalnya (strike slip) sementara hal sebaliknya terjadi di sisi barat patahan. Perbedaan mekanisme ini kemungkinan mengindikasikan adanya segmentasi di sepanjang patahan.
Keberadaan atau ketiadaan segmentasi akan berimplikasi pada besaran gempa yang dapat dibangkitkan pada saat sebuah patahan bergerak. Jika Patahan Lembang hanya terdiri dari satu segmen yang bergerak secara bersamaan maka gempabumi yang dibangkitkan dapat mencapai 7 skala Richter. Gempa dengan skala sebesar ini akan menimbulkan kerusakan yang cukup parah di Cekungan Bandung mengingat sebagian besar cekungan ini terisi oleh endapan danau muda yang belum terkonsolidasi dengan baik. Jika ternyata Patahan Lembang memang terbagi menjadi beberapa segmen maka besaran gempabumi yang dibangkitkan sangat tergantung kepada segmen mana saja yang bergerak. Dan jika ternyata segmen-segmen itu tidak pernah bergerak bersamaan maka dapat dipastikan bahwa gempabumi yang dibangkitkan tidak akan jauh lebih kecil dari 7 skala Richter.
Hal lain yang penting dalam usaha mitigasi bencana gempabumi akibat pergerakan Patahan Lembang adalah mengetahui tingkat keaktifan patahan itu. Nossin et al. (1996) melaporkan bahwa patahan ini bergerak terakhir kali sekitar 27.000 tahun yang lalu. Namun Nossin tidak memberikan laporan tentang potensi pergerakan patahan ini di masa mendatang. Baik hasil rekaman kegempaan maupun hasil pemantauan pergerakan blok patahan juga tidak menunjukkan adanya pergerakan yang signifikan (Abidin – komunikasi lisan). Pada sisi lain, terdapat laporan-laporan adanya gempabumi secara sporadis dari penduduk yang tinggal di sekitar garis patahan. Laporan penduduk ini mengindikasikan bahwa Patahan Lembang bisa jadi masih aktif. Keberadaan sagpond di beberapa bagian ruas patahan ini memperkuat indikasi bahwa patahan ini masih aktif dan sedang berada pada fase interseismik.
SANGHIYANG TIKORO
Setelah pembentukan Patahan Lembang, maka terjadilah erupsi yang hebat dari gunung api Tangkuban Parahu dalam bentuk slak-tufa. Hasil pertama dari gunung api Tangkuban Parahu ini berupa eflata ( bahan lepas). Material yang keluar in mengisi depresi Lembang dan terbentur pada Patahan Lembang. Material ini mencari jalan keluar ke selatan melalui celah-celah dalam dinding patahan ini, yaitu melalui penyayatan Ci Paganti dan Ci Kapundung. Arus yang mengalir ke sbelah barat tidak menemukan rintangan yang berarti, karena tinggi dinding patahan ini tak setinggi di sebelah timur. Sehingga mulailah bagian ini dibanjiri material gunung api Tangkuban Parahu, kea rah Cimahi dan Padalarang.
Aliran sungai Citarum pada waktu itu berlainan dari pada sekarang. Sungai ini kira-kira mengalir di sebalah utara Cimahi, dan berbelok ke arah Padalarang melalui lembah dimana kini terdapat sungai Cimeta.
Arus lahar yang mengalir ke arah barat dari gunung Tangkuban Parahu, membendung Citarum sehingga terjadilah apa yang disebut Danau Bandung. Citarum tak lama kemudian mendapat penyayatan baru pada batu gamping di sebelah barat daya Padalarang. Tempat penyayatan ini dikenal sebagai Sanghiang Tikoro.
GUA PAWON
Setelah dari Sanghiang Tikoro kami melanjutkan perjalan ke Gua Pawon. Gua Pawon merupakan salah satu tempat yang menjadi lokasi penelitian berbagai ahli geografi.
Goa Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung. Lokasi penemuan terletak tidak jauh dari sisi jalan raya yang menghubungkan Bandung–Cianjur dan kota-kota lainnya di sebelah barat.Disebut Goa Pawon karena lokasi temuan berada di dalam goa kars yang terletak di sisi tebing bukit kars Gunung Masigit yang oleh penduduk setempat dinamakan Goa Pawon. Dalam bahasa Sunda, pawon artinya sama dengan dapur. Jika diukur dengan permukaan tanah terendah di daerah itu yang diperkirakan merupakan dasar danau, maka letak goa tersebut berada pada ketinggian sekitar 100 meter.
Di Gua Pawon, telah ditemukan kerangka manusia (homo sapiens), kerangka yang dilipat, umurnya Sembilan ribu tahun yang lalu. Di dalam lubang eskavasi itu terdapat banyakperkakas, baik yang terbuat dari batu obsidian maupun batu andesit, serta yang terbuat dari tulang. Ditemukan sisia makanan yang mereka makan pada waktu itu, seperti tulang. Diduga, manusia prasejarah menyukai sumsum. Ditemukan juga cangkang kerang air tawar dengan ujung bawah yang sudah dipatahkan. Bisa jadi itu untuk mempermudah mengeluarkan isi kerang itu, seperti yang dilakukan masyarakat saat ini. Manusia purba pun sudah memakan isi kemiri, karena disana ditemukan pecahan cangkang kemiri.
Di utara gua terdapat lembah yang berupa lahan basah, sehingga sangat mungkin lembah itu menjadi sumber air dan tempat perburuan binatang yang sedang mencari air.
Gua pawon merupakan gua kapur, yang sebagian atap guanya sudah ambruk (sinkhole), sehingga keadan di dalamnya jadi terang. Dibagian tengah goa yang agak luas, kini banyak ditumbuhi pohon keras.
Di puncak bukitnya, di atas pasir pawon terdapat banyak bentukan alam khas batu kapur, membentuk taman batu ( stone Garden) yang unik. Bentukan ini semula berupa batu kapur yang terlarutkan membentuk gua-gua vertical. Karena proses alam, langit-langitnya ambruk, lalu membentuk polar-pilar yang khas di kawasan kars.
Hari Ketiga:
TAMAN JUNGHUHN
Di dekat Pasar Lembang di utara Bandung ada gang kecil yang bernama Junghuhn. Di dalam gang ini terdapat sebuah taman kecil yang dikenal dengan nama Taman Junghuhn. Di taman ini pula terdapat monumen sederhana yang mengingatkan pada Dr. Franz Wilhelm Junghuhn.
Bagi orang Indonesia, khususnya Jawa Barat dan Bandung, tentu tak asing dengan nama Junghuhn. Seorang dokter dan peneliti alam kelahiran Mansfeld-Prusia pada tahun 1820 dan meninggal di Lembang pada 24 April 1864. Pria itulah yang berjasa besar melakukan penelitian tentang kina di Indonesia sehingga bisa disebut sebagai Bapak Kina.
Junghuhn berasal dari keluarga dokter di Mansfeld yang dulu termasuk wilayah Prusia. Di kota Halle dan Berlin, Junghuhn belajar ilmu kedokteran dan melakukan penelitian di bidang botanika. Ia sempat masuk dinas militer Prusia sebagai perwira kesehatan. Namun Desember 1831 ia ditangkap dan dibawa ke penjara militer di Koblenz, dan dijatuhi hukuman penjara 10 tahun. Baru 20 bulan di penjara, ia berhasil melarikan diri ke Belgia. Dari sana ia menuju ke Prancis dan bergabung dengan Legiun Tentara Bayaran.
Suatu waktu di Paris ia berkenalan dengan ahli botanika Belanda bernama Christian Hendrik Persoon yang menganjurkannya untuk pergi ke Hindia-Belanda. Sebagai persiapan, ia pergi ke Belanda untuk belajar dan meraih gelar dokter di Leiden. Seusai kuliah, 12 Januari 1835 Junghuhn diangkat menjadi dokter militer tingkat III. Keberangkatannya ke Hindia Belanda menandai petualangan hidupnya.
Tanggal 12 Oktober 1835 Franz Wilhelm Junghuhn mendarat di Batavia. Di kota ini ia bekerja sebagai perwira kesehatan pada pemerintahan kolonial Belanda. Namun tak lama kemudian ia mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya, yaitu riset dan pendataan geografi dan geologi Indonesia. Junghuhn pun dibebas-tugaskan sebagai dokter, tahun 1836. Dan mulailah ia melakukan penelitian di Jawa.
Antara 1840 dan 1842 ia melakukan penelitian di Tanah Batak di Sumatra Utara dan menulis monografi pertama tentang sejarah Tanah Batak. Tahun 1848 ia melanjutkan risetnya di Jawa. Ia merupakan orang pertama yang secara sistematis menjelajahi Pulau Jawa. Penelitiannya dilakukan dalam keadaan serba sulit, penuh pengorbanan dan disiplin.
Antara 1848 dan 1851 ia harus melanjutkan pekerjaannya di Belanda, karena sakit. Disana ia menulis buku yang terdiri atas tiga jilid berjudul: Jawa, bentuk, flora dan susunan tanahnya. Siapapun yang membaca bukunya akan kagum, karena Junghuhn tanpa bantuan dari suatu lembaga atau universitas, mampu melakukan penelitian yang rinci seperti itu. Hasil karyanya yang lain, peta pertama topografi pulau Jawa. Suatu karya besar di bidang kartografi.
Pujian pun berdatangan ke arahnya. Diantaranya dari rekannya Dr. Karl Helbig dari Hildesheim, yang menyebutnya sebagai peneliti asal Jerman terbesar di bumi Melayu. Ia juga menjulukinya sebagai ‘Humboldt’ dari Jawa.
Setelah menikah Johanna dengan Johanna Frederica dari Leiden tahun 1850, Junghuhn menjadi warga negara Belanda. Iapun menulis buku-bukunya dalam bahasa Belanda. Sementara rekannya dari Jerman Karl Hasskarl menerjemahkan buku-bukunya ke dalam bahasa Jerman.
Setelah kembali ke Jerman Hasskarl mendapat tugas berbahaya dari pemerintah Belanda yang sebenarnya di luar legalitas. Ia diperintahkan membawa benih dan bibit pohon kina dari Peru ke Jawa. Peru yang ketika itu memiliki monopoli atas pohon kina melarang ekspor kulit pohon kina. Sejak lama kulit pohon kina dipakai sebagai bahan dasar untuk obat malaria.
Semakin banyak orang Eropa bekerja di daerah tropis, bubuk putih dari kulit pohon ini, yang disebut kinine, semakin laku. Hasskarl berhasil membawa benih dan bibit pohon kina dalam 121 peti ke Jawa. Namun hanya 70 tumbuhan selamat.
Pohon itupun ditanam di Cibodas. Namun karena kesehatannya tidak memungkinkan memikul tugas berat iapun kembali ke Eropa. Tugas itu beralih pada Junghuhn yang kembali ke Jawa tahun 1855. Ia ditugaskan sebagai inspektur untuk membudidayakan pohon kina. Di sekitar Lembang ia membangun perkebunan kina.
Bersama isteri dan puteranya, Junghuhn memulai bagian kedua petualangan hidupnya di Lembang. Tetapi rupanya nasibnya kurang baik. Kegagalan, salah urus, dan kesehaan yang mulai mundur ditambah sikap iri rekan-rekannya, mewarnai tahun-tahun terakhir hidupnya hingga ia meninggal karena penyakit hepatitis.
Seorang dokter asal Swiss, E. Haffter 1898 tiba di Lembang, 34 tahun setelah meninggalnya Junghuhn, melaporkan, lebih dari dua juta pohon kina telah digunakan untuk produksi kinine. Sampai pada tahun 40-an, menjelang pecahnya perang dunia kedua, perkebunan di sekitar Bandung menghasilkan bahan baku bagi 90 persen produksi kinine di seluruh dunia.
Untuk waktu yang lama kinine merupakan satu-satunya obat pemberantas malaria. Monopoli kina yang diasosiasikan dengan nama Bandung, baru berhasil dipatahkan setelah ditemukan obat malaria sintetis. Untuk pengembangannya perusahaan farmasi Jerman juga memainkan peranan penting.
Dr. Ir. G.P. Wenten Astika dari Pusat Penelitian Teh dan Kina menggambarkan pasokan kina dari Indonesia pasokan kina dari Indonesia hanya sekitar 5% di dunia. Padahal sebelum perang dunia ke-2, Indonesia bisa memasok 95%. Karena waktu itu Indonesia memonopoli pasaran kulit kina. Sekarang sudah banyak negara yang mengusahakan kina, seperti Rwanda, Afrika Selatan, Zaire lalu India juga, sehingga persaingannya semakin tajam.
Sayangnya, keberadaan taman Junghuhn di Lembang kini tak terawat padahal menurut keterangan penduduk sekitar, dahulu di taman ini bukan hanya dipenuhi pepohonan tetapi juga banyak terdapat berbagai macam satwa.
GUNUNG TANGKUBAN PARAHU
Gunung Tangkuban Perahu terletak sekitar 30 km di utara Kota Bandung. Tempat indah ini terletak di daerah Lembang, kurang lebih 30 menit dari Bandung menggunakan kendaraan bermotor.Gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Gunung ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik di Jawa Barat. Lingkungan alamnya yang sejuk, dan sumber mata air panas di kaki-kaki gunungnya. Deretan kawah yang memanjang, menjadi daya tarik tersendiri.Tangkuban Perahu sebenarnya adalah gunung berapi. Dinamakan tangkuban perahu karena bentuknya yang menyerupai kapal yang terbalik.
Nama Tangkuban Perahu sendiri sangat lekat dengan sebuah legenda tanah Sunda yang sangat terkenal, yaitu Sangkuriang. Gunung Tangkuban Perahu yang dari kejauhan tampak seperti perahu terbalik, konon diakibatkan oleh kesaktian Sangkuriang yang gagal meyelesaikan tugasnya dalam membuat perahu dalam waktu semalam untuk menikahi Dayang Sumbi yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Karena begitu kesalnya tidak dapat menyelesaikan pembuatan perahu tersebut, akhirnya Sangkuriang menendang perahu yang belum jadi tersebut. Legenda diataslah yang menjadi kaitan erat dalam penamaan gunung Tangkuban Perahu.
Pesona gunung Tangkuban Perahu ini begitu mengagumkan, bahkan, pada saat cuaca cerah, lekukan tanah pada dinding kawah dapat terlihat dengan jelas, sangat kontras dengan hijaunya pepohonan di sekitar gunung tersebut. Tidak hanya itu, dasar kawah pun dapat kita nikmati keindahannya yang sangat mengagumkan. Keindahan alam inilah yang menjadikan Tangkuban Perahu menjadi salah satu tempat wisata alam andalan Propinsi Jawa Barat, khususnya Bandung.
Jalan menuju Tangkuban perahu, dikiri kanan jalan anda akan melihat hamparan hijaunya kebun teh dan juga barisan pohon-pohon pinus. Namanya juga gunung, sudah pasti setiap saat udaranya sejuk banget. Karena Tangkuban perahu merupakan gunung merapi yang masih aktif sampai saat ini, maka dari dulu sudah banyak terjadi letusan yang meninggalkan kawah sisa letusannya. Saat ini Kawah-kawah tersebut sudah dijadikan tempat wisata.Kawah-kawah tersebut antara lain Kawah Ratu, Upas, Domas, Baru, Jurig, Badak, Jurian, Siluman dan Pangguyungan Badak. Di antara kawah-kawah tersebut, Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar, dikuti dengan Kawah Upas yang terletak bersebelahan dengan kawah Ratu. Beberapa kawah mengeluarkan bau asap belerang, bahkan ada kawah yang dilarang untuk dituruni, karena bau asapnya mengandung racun.
Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.
Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi Anjing tersebut.
Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.
Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. dayanng Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.
Segera setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapa akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.
Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.
Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.
KAWAH DOMAS
Kawah Domas merupakan salas satu dari 10 kawah di tangkuban parahu, kawah domas terletak jauh di bawah kawah tangkuban parahu. Di kawasan kawah domas banyak sekali terdapat sumber air panas. Kolam air kawah domas banyak akan sulfar dan belerang, konon kandungannya mampu mengobati penyakit-penyakit kulit. Selain itu banyak wisatawan asing maupun local yang merebus telur di kawasan kawah domas tersebut, cukup dengan hanya waktu 10 menit telurpun sudah matang.
PENUTUP
Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT, bahwanya kami telah menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang dilaksanakan di kawasan Bandung Purba – Jawa Barat. Dan kami mengucapkan terimaksih pada semua pihak yang telah membantu akan pembuatan laporan ini.
KKL yang telah kami laksanakan begitu banyak sekali manfaatnya, kami jadi bisa mengetahui berbagai informasi mengenai kejadian-kejadian alam khususnya mengenai peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi di muka bumi. Selain dari itu kami juga mendapat informasi lain yaitu tentang berbagai tempat-tempat pariwisata alam yang ada di wilayah Jawa Barat, khususnya di wilayah bandung.
Kami menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan bimbingan dan masukan dari semua pihak.
Tim Kuliah Kerja Lapangan (KKL)
Terimakasih
HASIL DOKUMENTASI KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
KAWASAN BANDUNG PURBA – JAWA BARAT
Berbaga Jenis Kerangka Manusia Kerangka Dinosaurus
Batuan-Batuan Purba Kerangka Hewan (sejenis ular) Purba
Kawah Gunung Tangkuban Parahu Kawah Domas
Sanghiang Tikoro Jalan Masuk Gua Pawon
Cagar Alam Junghuhn
LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL)
MAHASISWA GEOGRAFI
Kawasan Bandung Purba - Jawa Barat
Disusun oleh,
HASBI PRANOTO
092170081
INDRA ABDILLAH
092170088
GUNAWAN
092170096
ALFIAN ADAM TRISETIYADI
092170100
RIAN JAKA PANUTAN
092170105
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA
2010
Kamis, 15 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
-
Letak Kepulauan Indonesia yang yang berada di pertemuan tiga lempeng besar yaitu Eurasia, Australia dan Pasifik menyebabkan banyak bencana ...
-
LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN (KKL) MAHASISWA GEOGRAFI Kawasan Bandung Purba - Jawa Barat Disusun oleh, HASBI PRANOTO 092170081 ...
-
Hari pertama : Doa bersama mengawali pemberangkatan PKL Dieng pada waktu itu, kebetulan kami dilepas oleh pak Dekan. Perjalanan pun dimul...
-
Setiap orang pasti mempunyai apa yang spesial dikehidupannya, entah itu orang spesial, benda spesial, hewan peliharaan special sampai denga...
-
BELAJAR DARI HAL YANG TERKECIL

Tidak ada komentar:
Posting Komentar